Kamu itu sesuatu yang seakan-akan stationer…
Kamu datang dan kamu ada disitu
Seakan-akan kamu tiba-tiba jatuh dari langit ke pangkuanku
Ga ada pertanda ato sinyal yang ngasi tau kamu akan datang
Mungkin kalo kamu pergi, kamu akan pergi tanpa sepengetahuanku juga
biar aku ngga ngerasa apa-apa
Mempertahankan ciri stationer yang kamu punya, biar dibilang konsisten

Lucu juga, kalo orang selalu menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang bergejolak..
Apa yang aku rasain ke kamu justru sebaliknya, tenang, agak2 datar dan un-disrupted.

Kamu adalah sesuatu yang biasa. Kamu ga buat aku nangis-nangis kangen waktu kamu ga ada. Kamu juga ga buat aku lompat kegirangan waktu kamu tiba2 muncul. Aku cuma mikirin tentang kegiatan yang kamu kerjain waktu kamu ga ada, nyapa kamu sambil nanya kegiatan yang kamu kerjain hari ini kalo kamu ada, ditambah printilan-printilan lainnya untuk bahan obrolan ato untuk bahan pikiran besok2 kalo kamu ga ada lagi. Ga ada sesuatu yang beda, ga ada sesuatu yang extraordinary. kalaupun ada yang bisa disebut extraordinary, kamu itu extraordinarily ordinary. seakan-akan kamu udara yang aku hirup setiap saat: ada, dibutuhkan, dan Dikonsumsi tanpa sadar.

Kalo inget yang dulu-dulu, mungkin beda. Dulu aku nahan2 perasaanku ke kamu karena aku terlalu malu untuk nunjukin perasaan-perasaan itu. Aku sampe mikirin bahan obrolan ato apapun yang bisa dijadiin alesan yang masuk akal untuk nelpon kamu. Aku sengaja ngelewatin tempat-tempat tertentu biar bisa ngeliat kamu dan ngeliat apa yang lagi kamu kerjain, sambil berharap kamu ngeliat aku juga, biar bisa nyapa (se-Engga-nya say halo). ber-akting sok cuek kalo lagi ada kamu biar ga dianggap suka, karena aku takut kamu ngejauh. Aku juga naro reminder di HP, selama 2 minggu sebelum ulang taun kamu, karena aku lupaan, biar bisa nyiapin hadiah yang kira-kira cocok untuk kegiatan kamu yang lagi kamu kerjain. Kamu orangnya Keliatan sibuk, jadi aku pikir lebih baik ngasi hadiah yang berguna untuk kegiatan kamu daripada boneka teddy bear yang 10 taun lagi ga jelas juntrungannya (meskipun akan keliatan lebih romantis kalo aku ngasih teddy bear).

Dulu, perasaan-perasaan itu yang bikin semuanya serba bergejolak, mungkin aku harus bilang “jumpalitan” kalo boleh hiperbol. Perasaan-perasaan menanti, kecewa, malu, seneng sekaligus berharap. Mau ga mau, aku harus bisa nikmatin perasaan-perasaan itu. Karena, waktu itu, cuma perasaan-perasaan itu yang bisa ngasih tau aku kalo mahluk kayak kamu ada. Jujur, waktu itu, aku sangat menghargai perasaan-perasaan itu karena perasaan-perasaan itu yang bisa ngasih hubungan antara aku sama kamu, meskipun lebih terasa hubungan satu arah ketimbang dua arah (T_T). sekarang-perasaan perasaan itu ga ada lagi. perasaan-perasaan itu tiba2 ilang waktu kamu tiba-tiba jatuh dari langit. Ga ada yang ngasih tau ke aku kemana perasaan-perasaan itu pergi. mereka juga ga bilang2 mau kemana. tiba-tiba ilang aja kayak korek gas yang ditinggal di meja kantin kampus (banyak yang curanrek-pencurian korek).

Tapi meskipun begitu, aku menghargai ke-”biasa”-an ini. aku ga tau gimana rasanya hidup ku kalo kamu ga ada. kayanya aku emang butuh kamu, big-time. aku butuh kamu untuk ada dipikiranku sebagai kamu yang sekarang. Aku bisa ngeliat betapa penting peran kamu di hidupku. Meskipun kamu, mungkin, ngga ngerasa begitu. Aku menikmati keberadaan kamu yang “biasa-biasa aja” di setiap hariku dan aku juga butuh perasaan yang timbul dari ngeliatin kamu, dari ngobrol-ngobrol sama kamu, becanda-becanda sama kamu, nanyain kegiatan kamu, nahan perasaan untuk ga nelpon kamu karena kamu ga suka di telpon terlalu banyak, cape ngadepin kegiatan kamu yang banyak sampe-sampe untuk makan pancake aja harus nyari jadwal yang pas.

aku menghargai semua perasaan itu, ga peduli seberapa kecilnya perasaan itu……
karena, saat ini, aku rasa aku ga butuh perasaan-perasaan yang bergejolak..
aku cuma butuh kamu, dan perasaan-perasaan kecil yang keliatannya ngga signifikan itu sebenernya ngasih tau aku kalo kamu ada disini, bukan di tempat lain.

6 o’clock in the morning,
i have not quite feel the comfort of my pillow,
since my bag seems to be the only pillow that i could lay my head on..

yet, being so tranquilly entertained listening to my own song which is being so lazily repeated by this binary-based music player of mine, i suddenly feel strangely discomforted by the existence of this flight-of-ideas in my head. My critics on the law of attraction, which i should say as the most absurd motivational technique that i have ever comprehend, but somehow manage to lurk it’s way into my system into making me thinking that it is possible. My ideas to restructure this one governmental corporation which has been controlling the most-needed commodity in the history of mankind, and didn’t do much good about it. But, i do feel that i am not the expert in this particular subject. And there it is, my critics on the conclusion of a young economist regarding corruption and it’s impact on economic development which, in my opinion, was being too pragmatically constructed by a misleading rationalization.

All this ideas, all this abundant growth of thoughts being not sufficiently supported by knowledge, i fear, may have and will lead me to another useless search for cause. It should be true to say that i have never felt exuberant in having those ideas for i have never find anything useful in those scattered pieces of puzzles, except for the privilege to understand that i am able to think as much as countless in a single moment, and simultaneously realize that it is a normal state for any human to do so. (that’s why they create the term flight-of-ideas, i guess).

Some says that ideas last longer than actions, That ideas is one of the greatest ability of mankind, That ideas are the key to evolution and growth. But, it seems to me, in this cursed-like moment, that it is the knowledge that gives enlightenment. You see, ideas can really mean something, only if they were supported by certain degree of knowledge. In this case, a degree to which those ideas are feasible enough to be brought into successful actions. Ideas are nothing more than a blow of wind in the neck. They only tickle your state of awareness. They need stimulus to exist, they need the power of will to be realized. But, most importantly, they need the formidable effect of knowledge to lead them into the right path.

i am no one…

but tend to imitate and abuse one’s ability to do anything more than what i can achieve..

i am an opportunist, who raved in the backyard of my mother’s house like a mad man for having something out of my perception of “order”… while at the same time, enjoying the chaos that i produce…

such an immature behavior, selfishly crafted to satisfy my need of self fulfillment…

i better rot in my mom’s kitchen to die for having myself doing my thoughts…

this is madness, i thought to my self…

but yet, presented in front of me in such beauty and grace, it captured my eyes and my mind in a very intimate way…

that it should be, and would be, something that i long for myself to attain…

oh why, oh why?

this is sickness…………………………………………………………………………………………………………………………………

i want my self to be what i want to be…
by not having anything in my way in achieving…

i will fly… to the end of this land…
and come back.
just to have fun with the wind that`ll pass me through…

with everything i see and everything that come
upon my back as an aggravating subtance to my
happines…

non of them will bother my will to laugh upon my
sadness… and to overcome my greatest enemy…

no obligation will defeat me from the wishpering
wind of the sky where i flew.

regards,

peter pan

Dapatkah ku tertidur sepertimu…

Dapatkah ku meraup sedikit yang kau punya…

 

Apa mungkin… bila semua dariku tlah hancur..

Dapatkah lagi ku membawa kebahagiaan…?

Tanpa sedikitpun memiliki…

 

Lelah ku cari…

Hingga mentari tak lagi hangat…

Hingga malam tak lagi berarti…

 

Namun… apa yang kumiliki…

Hanya keinginan untuk berarti bagi diri…

Namun tak akan cukup untukmu…

 

Aku tak berani meminta…

Namun keinginan ini begitu besar…

Merangkul nafasku dalam tangan kekarnya…

 

Aku tenggelam dalam ambisi…

Hingga ku melupakan apa yang kucari…

Telah hilang semua yang berarti…

Namun ku terus mencari…

Dan aku jatuh…

Aku hancur…

 

Aku egois…

Saat ini…

Kulupakan semua… hingga kau hilang…

 

Sadari bahwa kusalah…

Bila kau mendengar, mungkinkah kau akan bahagia…

Akan sadarku…

 

Kau mencampakku… karna salahku…

Dan kau mati…

Karna tak bisa tanpa ku…

 

Kusadari…

Sekarang…

tak mungkin kau tersenyum…

meski surga menatapmu dengan matanya yang indah..

menyambutmu dengan suaranya yang merdu..

dan memelukmu dengan tangannya yang lembut…

 

dan aku tau…

aku menginginkan mu..

aku meginginkan mu untuk tersenyum..

untuk bahagia…

karena, semua yang kulakukan hanya untuk senyum mu..

semua yang kulakukan hanya untuk bahagia mu…

tak sadari bahwa itu membunuhmu…

 

aku terjebak dalam keinginan..

tanpa peduli, bahwa, yang perlu kulakukan hanya ada untukmu…

 

kuraih bintang untukmu..

kuraih langit untukmu..

kulukai diriku…

dan bangkit lagi…

hanya untukmu…

kukira untukmu…

ternyata untuk egois ku…

 

mungkin harus ku bunuh raga ini..

agar dapat bertemu…

agar kau dapat melukaiku…

karna melukaimu..

 

agar ku dapat menangis dan bertekuk lutut di hadapmu..

agar kau dapat membunuhku lagi.. bila itu yang kau mau…

agar kau dapat membuangku jauh.. dan melupakanku..

 

hingga akhirnya kau bisa tersenyum.. bahagia..

karna, semua yang kulakukan hanya untuk senyum mu..

semua yang kulakukan hanya untuk bahagia mu…

 

Dapatkah lagi ku membawa kebahagiaan…?

Tanpa sedikitpun memiliki…?